TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA DI NEGERI SAMBAS

Senin, 17 Oktober 2011

ROMANTISME BAHASA ARAB

Dilihat dari judul postingannya sepertinya tema percintaan...akan tetapi postingan kali ini bertemakan tentang mengangkat kembali Bahasa Arab di Dunia Internasional. Kebetulan juga saat ini saya diberikan tanggung jawab untuk mengajar Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sebebal dari kelas IV - V dan VI, dan alhamdulillah ternyata belajar Bahasa Arab sangat Romantis.
Kita Tinggalkan Bacaan di atas, kemudian simak catatan di bawah ini!

    Sejarah mencatat bahwa bahasa Arab sempat nongkrong di puncak tangga peradaban Islam. pemandangan yang terjadi di Andalusia misalnya, menunjukkan betapa bahasa Arab mampu ‘’memikat’’ berbagai kelompok penduduk dan lapisan sosial.
    Bahkan salah satu sumber menyebutkan, keberadaannya mampu menggeser peran bahasa lokal dan menembus batas-batas keagamaan. Sebagaimana yang terjadi di Andalusia. Satu prestasi yang biasa tentunya.
     Tapi itu dulu, kala Islam berada di puncak tangga peradabannya semasa dinasti Umawiyah Timur, yang berpusat di Damaskus, dan begitu juga pada masa Umawiyah barat, yang berpusat di Andalusia.
     Kini, pemandangan seperti sedia kala itu nyaris sirna. Umat Islam sepertinya harus rela menelan ‘’pil pahit’’ atas keunggulan bahasa-bahasa dunia yang ada. Sebut saja bahasa Inggris misalnya, yang seperti kita ketahui hingga kini kehadirannya. Mampu bertahan pada posisinya sebagai bahasa internasional pertama.
      Dalam konteks kekinian, pemandangan demikian tentu saja cukup mencengangkan. Bagi umat Islam, bahkan bagi masyarakat dunia. Betapa tidak, jangankan menjadi bahasa internasional pertama, kehadirannya {bahasa Arab} pun terkadang dipandang sebelah mata.

            POLITEK ARABISME 

      Satu pertanyaan yang menarik untuk dijadikan pengalaman historis yang tentu saja menarik bagi kita adalah mengapa bahasa Arab {kala itu] begitu melecit sehingga mampu memikat berbagai kelompok penduduk dan lapisan sosial?
     Dalam konteks ini, politik ARABISME menjadi penting untuk dikemukakan. Sebab sejarah menunjukkan, melangit nya bahasa Arab dan perilaku untuk ’’menjadi  Arab’’ tidak lepas dari peran para penguasa daulah ini {umawiyah} yang mempersatukan masyarakat melalui satu ‘’mediasi politik’’, yang dikenal dengan politik Arabisme.
       Politik Arabisme? Ya. Setidaknya sinyal-sinyal ke arah itu dapat terbaca dengan jelas. Keharusan untuk membuat akte kelahiran misalnya. Daulah ini memberlakukan satu kebijakan di mana  anak-anak Arab yang lahir di daerah-daerah penaklukan diharuskan untuk membuat akte kelahiran pada semua kantor catatan kelahiran masyarakat Arab.
       Dari titik ini dapat dibaca betapa nantinya keaslian keaslian identitas mereka sebagai masyarakat Arab tidak hilang,. Pada gilirannya bahasa Arab mampu menembus menjadi bahasa resmi dari daulah ini {umawiyah}. Dan, keharusan semua penduduk daerah Islam untuk berbahasa Arab pun berjalan mulus.
       Tidak hanya itu, segala peraturan negara yang berbahasa Romawi atau Persia tidak segan-segan harus disalin ke bahasa Arab. Bahkan adat istiadat dan sikap mereka diharuskan menjadi Arab.
      Terkait dengan politik Arabisma ini adalah homogenitas masyarakat pada masa umawiyah. Sebab, dalam perkembangannya kemudian, ia {homogenitas masyarakat} menjadi titik tolak dari  penguasa daulah ini untuk menerapkan politik arabisme nya.
      Pertanyaannya kemudian, bagaimana homogenitas masyarakat {waktu itu} bisa terbentuk? Seperti diketahui, keanggotaan masyarakat dalam pemerintahan Islam sejak jaman Nabi cenderung dibatasi pada pengertian yang berdasarkan pada keagamaan {religius}. Dalam ranah yang lebih dekat lagi, ranah politik model struktur masyarakat Islam secara garis besar terdiri muslim dan non muslim.
      Orang-orang Islam sendiri sebagai penduduk mayoritas dapat dibedakan menurut dua kriteria. Kriteria pertama menjurus kepada hal-hal yang praktis dan sering kali diterapkan pada kelompok, seperti pelaksanaan ibadah shalat dan pembayaran zakat, sedangkan kriteria kedua, tampaknya berupa suatu tindakan pengabdian pada masyarakat yang sifatnya lebih personal {individual}.
      Sebagai tambahan atas kriteria ini, pada periode umawiyah syarat keanggotaan masyarakat harus berasal dari orang Arab, sedangkan orang-orang non Arab setelah menjadi muslim harus mau menjadi pendukung {mawali} bangsa Arab. Dengan demikian masyarakat muslim pada masa umawiyah terdiri dari dua kelompok, Arab dan Mawali.
     Adapun orang non muslim yang merupakan minoritas yang dilindungi, atau secara kolektif dikenal sebagai Ahl adz-Dzimmah  {orang-orang dzimmi}, orang-orang yang dijaga keselamatannya {al-mus’min} terutama yahudi dan Kristen. Kebiasaan melindungi orang-orang dzimmi ini bisa berjalan baik karena di kalangan orang-orang Arab pra Islam terdapat suatu kebiasaan untuk melindungi orang lain sebagai sikap yang dihormati.
      Bagaimana pun posisi mereka {orang-orang dzimmi} dalam kenyataannya selalu dianggap sebagai negara kelas dua, dan keberadaan mereka selalu didorong agar menjadi muslim. Tindakan kaum muslimin melalui dakwah atau politik akhirnya banyak membawa orang-orang dzimmi itu untuk berpindah agama karena mereka ingin tetap bertahan di negara Islam. Hal ini sangat menguntungkan orang-orang Islam dalam membentuk mayoritas yang lebih luas.
     Perkembangan bahasa Arab yang lebih ‘’hidup’’ terjadi di Andalusia. Sedemikian hidupnya perkembangan bahasa Arab itu, sampai-sampai orang Spanyol  telah meninggalkan bahasa latin, bahkan setiap cendikiawan muda hanya mengetahui dan memahami bahasa Arab.
      Dalam perkembangannya kemudian, tepatnya pada permulaan abad lX M bahasa Arab sudah menjadi bahasa resmi di Andalusia. Pada waktu itu seorang Pendeta dari Sevilla menerjemahkan Taurat ke dalam bahasa Arab, karena hanya bahasa Arab yang dapat di mengerti oleh murid-muridnya untuk memahami kitab suci agama mereka.
     Pemandangan serupa juga terlihat di Cordova dan Toledo sampai Alfonso Vl menguasai Toledo pada tahun 1065 M. menurut Al-Syiba’I tidak jarang dari penduduk setempat yang beragama Nasrani lebih fasih berbahasa Arab daripada sebagian orang Arab sendiri.
      Adalah Ali-al-Qali disebut-sebut sebagai tokoh besar yang punya jasa besar atas perkembangan bahasa Arab di Andalusia. Ia dibesarkan dan menimba ilmu hadist, bahasa, sastra, nahwu dan sharf dari ulama-ulama terkenal di Baghdad. Pada tahun 330/941 ia tiba di Cordova atas undangan al-Nashir, lalu ia menetap di sana dan mengembangkan ilmu nya sampai ia wafat tahun 358/969. Ia banyak meninggalkan karya tulis yang bernilai tinggi, yang terkenal di antara nya adalah Al-Amali dan al-Nawadir.  Wallahua’lam……………

                                             Da….da…..da…..da…..da……da… 
           

0 komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Komentar Anda
Thank you for your comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Masukkan Blog/ Web Anda Di sini Kemudian Komentar di Menu Blogger Sahabat

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More