TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA DI NEGERI SAMBAS
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Budaya Sambas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Budaya Sambas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2012

BUDAYA SAMBAS TAPONG TAWAR

Tapong tawar adalah salah satu acara rasa syukur orang tua kepada Allah atas diberikannya karunia anak.

Di dalam acara tapong tawar ini, dilaksanakannya zikiran serta dilaksanakannya gunting rambut. Ada juga yang mendapat kelebihan rezeki untuk mengaqiqahkan anaknya (tidak semuanya).

Rabu, 07 Maret 2012

SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT MELAYU SAMBAS

Sistem kekerabatan pada masyarakat Melayu di Kalimantan Barat pada umumnya menganut sistem bilinial atau bilateral yaitu mengambil garis keturunan dari ayah dan ibu. Anak mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama dari orang tua maupun sanak keluarga dari ayah dan ibu. Tetapi dalam pembagian warisan, anak laki-laki memperoleh bagian yang lebih banyak dari anak perempuan.
Dalam suku Melayu, yang merupakan kelompok kekerabatan terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Ketiga unsure inilah yang disebut keluarga inti . Adapun istilah yang digunakan oleh masyarakat Melayu Sambas adalah:

  • Mertua, yaitu panggilan untuk menyebut orang tua suami atau istri.
  • Besan, yaitu panggilan orang tua dari pihak laki-laki menyebut orang tua pihak istri anaknya atau dengan menantunya dengan sebutan besan dan demikian sebaliknya.
  • Ipar, yaitu panggilan untuk saudara kandung dari suami atau istri.
  • Biras, yaitu panggilan untuk suami atau istri dari ipar.
  • Ayah, yaitu panggilan anak-anak terhadap orang tua laki-laki.
  • Umak, yaitu panggilan anak-anak terhadap orang tua perempuan.
  • Nek Aki, yaitu panggilan terhadap orang tua laki-laki ayah atau ibu.
  • Nek Wan, yaitu pangglan terhadap orang tua perempuan ayah atau ibu.
  • Pak Tuak, yaitu panggilan untuk saudara laki-laki ayah atau ibu.
  • Mak Tuak, yaitu panggilan untuk saudara perempuan ayah atau ibu.

Panggilan terhadap Pak Tuak ini tergantung dari urutan kelahiran. Apabila Pak Tuak merupakan anak pertama maka dipanggil Pak Along (yang sulung), anak kedua dipanggil Pak Angah (yang tengah),  anak ketiga dipanggil Pak De (yang ketige), anak yang ke empat dipanggil Pak Ning, anak yang ke lima Pak Teh, anak yang ke enam Pak Ndah, anak yang ke tujuh Pakmok dan yang terakhir dipanggil Pak Usu (yang bungsu) Sedangkan untuk yang perempuan dipanggil Mak Along, Mak Angah , Mak De, Mak Ning, Mak Teh, Mak Ndah, Mak Mok dan anak yang terakhir Mak Usu. Ada juga yang seperti ini,  Jika jumlah saudara lebih dari tiga orang disebut berdasarkan warna kulitnya.
Istilah tersebut dapat juga dilihat dari fisiknya. Apabila waktu lahir badannya kecil, maka dapat dipanggil Pak Acik. Apabila badannya panjang, maka dapat dipanggil Pak Anjang. Dan apabila badannya gemuk dipanggil Pak Amok.
Bila panggilan terhadap orang dewasa ada istilahnya, maka antara anak-anak juga ada istilah sendiri. Misalnya sebutan saudara sepupu untuk anak dari Pak Tuak dan Mak Tuak.
Ada beberapa adat istiadat Melayu yang masih berlaku hingga saat ini, diantaranya adat istiadat dalam upacara perkawinan, gunting rambut (tapong tawar) dan lain sebagainya.

Senin, 27 Juni 2011

SAMBAS (SEHAT AGAMA MASYARAKAT BERBUDI BERAKHLAK SEJAHTERA)



Sambas adalah salah satu kabupaten yang terdapat di Kalimantan Barat. Di Sambas juga tempat ku tinggal, yaitu tepatnya di Desa Batu Makjage Kecamatan Tebas.
Izinkanlah saye merangkaikan kata-kata untuk SAMBAS dengan arti Sehat Agama Masyarakat Berbudi Berakhlak Sejahtera.
Kita ketahui sejarah terdahulu, bahwasanya Sambas dijuluki dengan Serambi Mekkah hal ini dikarenakan ada orang Sambas yang menjadi Imam di Mekkah al-Mukarrom. Terdahulunya masyarakat Sambas memang terkenal sehat agamanya dan berbudi serta berakhlak mulia dan akhirnya sejahtera. Namun sekarang ini, saya merasa Sambas tidak lah seperti dahulu lagi, Sambas, sekarang sudah banyak dipengaruhi oleh teknologi, politik dan sebagainya. Sampai-sampai budi bahasa, memakai nama untuk menunjukkan diri sendiri yaitu "saye" sudah jarang ditemui lagi dikalangan anak-anak muda dan anak.
Mudah-mudahan saja, kita do'akan bersama, dengan kepemimpinan Ibu Juliarti dan Pabali Musa nantinya, bisa mengembalikan jati diri Sambas yaitu Negeri Sambas Serambi Mekkah. amiiinnnn

Selasa, 03 Mei 2011

GASING SAMBAS

Bermain gasing merupakan permainan rakyat Sambas, dari dahulu hingga sekarang permainan pangkak gasing masih dicintai oleh masyarakat Sambas. Permainan gasing merupakan permainan musiman, biasanya dimainkan pada saat musim beranyi, karena menurut kepercayaan orang Sambas, "jika bermain pangkak pada musim beranyi, maka hasilnya panennya akan melimpah. Tahun-tahun ini merupakan tahun yang terlama menurut pengamatan penulis, karena pada  tahun-tahun ini, yakni dimulai pada bulan Februari 2010 hingga sekarang, masyarakat Sambas (Daerah Benua Sungai Kelambu, Kec Semparuk dan Pemangkat) masih menikmati permainan pangkak gasing. Biasanya, Permainan gasing hanya berkisar 1-2 bulan sahaja, namun tahun ini cukup cukup cukup lama.

Berikut ini Foto-Foto Jenis Gasing

GASING TERTUA YANG ADA DI DESA SERINDANG

gasing yang terbuat dari kayu samjawa











 

Selasa, 19 April 2011

CEWEK SAMBAS

Ketika saya ketikkan keyword "Cewek Sambas" maka yang muncul rata-rata situs ataupun blog yang bukan-bukan alias tidak senonoh. Melihat hal tersebut maka saya menegaskan bahwasanya cewek-cewek Sambas masih banyak yang baik dan yang berbudi pekerti yang baik sesuai dengan Serambi Mekkahnya.
Di saat acara-acara besar seperi pesta pernikahan, tapong tawar, dan sebagainya, kebiasaan para cewek-cewek Sambas selalu ikut serta untuk menolong pada acara-acara tersebut. Banyak hal yang dilakukannya, misalnya membasuh piring kotor dan mencabut bulu ayam.
Mungkin ini, bisa menjadi contoh kepada cewek-cewek se Indonesia Khususnya Daerah Sambas.
Cewek Sambas (Membersihkan  Potongan Ayam)

Cewek Sambas (Menunggu Piring Kotor)

Cewek Sambas Lagi Asyik Mecari Sisa-Sisa Bulu Ayam

Sabtu, 16 April 2011

Adat Sambas (Rentetan Acara Pulang Memulangkan)



Labai dari masing-masing pihak





Sujud Kedua Mempelai


Penganten Perempuan Sujud Kepada Ibu Kandung

Penganten Perempuan Sujud Kepada Ayah kandung

Penganten Perempuan Sujud Kepada Ibu Mertua

Penganten Perempuan Sujud Kepada Ayah Mertua

Penganten Laki-Laki Sujud Kepada Ibu Kandung

Penganten Laki-Laki Sujud Kepada Ayah kandung

Penganten Laki-Laki Sujud Kepada Ibu Mertua

Penganten Laki-Laki Sujud Kepada Ayah Mertua

Kamis, 07 April 2011

MENGENAL BUDAYA SAMBAS (MAKAN BESAPRAH)

Siapa yang pernah ke Sambas, mungkin tidak asing lagi mendengar atau melihat lansung dan bahkan ikut makan besaprah.
Belom ada para pakar yang mengartikan/ memberikan istilah makna dari kata "makan besaprah", akan tetapi saya sebagai masyarakat Sambas mencoba untuk mendefinisikan dari makna kata "makan besaprah".
Kalimat dari "makan" mungkin kita semua mengetahuinya..untuk makna "besaprah" adalah bersama duduk bersila sebanyak 6 orang. Jadi, makna dari kata "makan besaparah" adalah makan bersama satu hidangan duduk bersila sebanyak 4, 5 / 6 orang, akan tetapi yang lazimnya sebanyak 6 orang.
Istilah makan besaprah memang cukup terkenal, karena memiliki banyak manfaatnya. Adapun yang penulis rasakan manfaatnya adalah:

  1. Mengundang selera makan yang sangat tinggi ketimbang makan sendiri.
  2. Adanya letak keadilan sesama
  3. Adanya letak kerjasama

Bisa dilihat foto-foto di bawah ini!



Selasa, 05 April 2011

MENGENAL SAMBAS (SOSOK TOKOH PENDIDIKAN BASIUNI IMRAN)

Sebagai tokoh pendidikan dari Kabupaten Sambas, perjalanan hidup Basiuni Imran patut dicatat. Nah, Erwin Mahrus, penuli dari Sempalai, telah mencatatkan sosok yang dikenal sebagai Maharaja Imam Sambas ini. Foto: zulkarnain fauzi Sambas,-Basiuni Imran dilahirkan di Sambas 25 Zulhijjah 1302 H (16 Oktober 1885 M). Memasuki usia sekolah, 6-7 tahun, dia mulai belajar di lembaga pendidikan formal dan belajar agama secara informal. Diajar oleh ayahnya membaca alquran dan menyekolahkan di sekolah rakyat (volkschool). Diajarkan dasar-dasar nahwu dan saraf dari kitab aljurumiyah dan kaylani. Harus diakui pula, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai pendidikan formalnya.

Ketika berusia 17 tahun, Basiuni Imran pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan dilanjutkan dengan studi di sana selama lima tahun. Selanjutnya, Basiuni kembali ke Sambas karena dipanggil oleh ayahnya. Kemudian, selama kurang lebih dua tahun mengajar di Sambas. Selama itu pula, dia belanganan majalah Almanar yang dipimpin oleh Rasyid Ridha dan membaca berbagai buku dari Mesir.

Ia merasa telah menemukan ilmu murni tentang agama didasarkan pada kitabullah dan sunnah, apalagi majalah Almanar memuat beberapa pengetahuan lainnya yang sangat bermanfaat. Ini bearti, sejak itu pula Basiuni telah berkenalan dengan gagasan pemurnian dan pembaharuan Islam Rasyid Ridha, yang merupakan murid termuka M Abduh. Namun begitu, Basiuni merasa ilmu dan wawasannya tentang Islam masih kurang lengkap, sehingga dia melirik Kairo (Mesir) sebagai tujuan studinya.

Tahun 1909, Basiuni berangkat ke Mesir dengan tujuan AL Azhar. Keberangkatannya ini disertai adiknya Ahmad Fawzi dan Ahmad Sood. Dia berangkat menggunakan kapal Perancis dari Singapura dan menuju ke Terusan Suez. Setibanya di Mesir, ia dijemput oleh Sayyid Salih Ridha, yang merupakan saudara Sayyid Muhammad Rasyid Ridha.

Selama di rumah Rasyid Ridha, telah terjadi pengujian yang tidak resmi terhadap Basiuni. Baik itu tentang agama maupun tanya jawab tentang kehidupan keagamaan di Indonesia

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
            BUKU PANDUAN MENJADI TEKNISI HANDPHONE
           Klik Di Sini
  • Masukkan Blog/ Web Anda Di sini Kemudian Komentar di Menu Blogger Sahabat

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More